Tradisi Manaqib di Pondok Pesantren Taruna Nurus Sholeh Paren
Paren – 22/01/2026, Pondok Pesantren Taruna Nurus Sholeh Paren menggelar acara manaqib yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat pondok. Hadir dalam acara tersebut para kiai, staf dapur (anshor), santri, serta guru-guru. Kehadiran beragam unsur ini menunjukkan bahwa tradisi manaqib bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga wadah kebersamaan yang mempererat hubungan antar warga pesantren. Sejarah dan […]
Paren – 22/01/2026, Pondok Pesantren Taruna Nurus Sholeh Paren menggelar acara manaqib yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat pondok. Hadir dalam acara tersebut para kiai, staf dapur (anshor), santri, serta guru-guru. Kehadiran beragam unsur ini menunjukkan bahwa tradisi manaqib bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga wadah kebersamaan yang mempererat hubungan antar warga pesantren.
Sejarah dan Asal-Usul Manaqib
Tradisi manaqib berakar dari kisah-kisah keutamaan, kebijakan, dan kekeramatan para wali, sufi, serta ulama besar. Salah satu tokoh utama yang menjadi pusat tradisi ini adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang sufi besar yang memiliki pengaruh mendalam dalam perkembangan Islam, termasuk di Nusantara. Beliau lahir pada 1 Ramadhan 470 H atau 1077 M di desa Jailan, Tabaristan (Iran). Nama “Al-Jailani” dinisbatkan kepada daerah kelahirannya.
Syekh Abdul Qadir dikenal sebagai Sulthonul Auliya (Raja para Wali) karena kedalaman ilmu dan keteladanan akhlaknya. Ajarannya disebut tasawuf akhlaqi, yaitu tasawuf yang menekankan pembinaan moral dan akhlak. Beliau wafat pada tahun 561 H/1166 M di Baghdad, dan makamnya hingga kini menjadi salah satu pusat ziarah umat Islam.
Pengertian Manaqib
Dalam bahasa Indonesia, manaqib berarti kisah kekeramatan para wali. Secara istilah, ia merujuk pada cerita-cerita tentang kepribadian mulia dan karomah para ulama, yang biasanya disampaikan oleh juru kunci makam, keluarga, murid, atau ditulis dalam kitab sejarah sufi. Membacakan manaqib bukan sekadar mengulang cerita, melainkan menghadirkan teladan hidup yang dapat dijadikan inspirasi oleh umat.
Kitab-kitab yang memuat manaqib Syekh Abdul Qadir antara lain:
- Bahjat al-Asrar karya asy-Syattanawi (713 H/1313 M), berisi biografi dan kisah karomah beliau.
- Khulasah al-Mafakhir karya al-Yafi’i (768 H/1367 M), memuat lebih dari 200 kisah kesalehan.
- Khalaid al-Jawahir karya al-Tadifi, lebih historis dan membahas kehidupan serta keturunan beliau.
- Natijah at-Tahqiq karya Abdullah Muhammad ad-Dilai (1136 H/1724 M), berisi ucapan dan nasihat beliau.
Tradisi Manaqiban di Indonesia
Di Indonesia, tradisi manaqiban berkembang pesat melalui jaringan pesantren dan tarekat Qadiriyah. Banyak pondok pesantren melaksanakan acara ini secara rutin, baik bulanan maupun tahunan. Walaupun tidak dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad, tradisi ini memiliki nilai positif yang besar.
Beberapa manfaat yang dirasakan antara lain:
- Dzikrul maut: mengingat kematian sebagai pengingat akan kefanaan hidup.
- Roja’: memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Allah.
- Ibroh: mengambil hikmah dari kisah orang-orang shalih untuk memperkuat iman.
- Kebersamaan sosial: mempererat hubungan antar warga pesantren dan masyarakat sekitar.
Tradisi ini juga berfungsi sebagai media dakwah kultural. Melalui bahasa yang indah dan kisah yang menyentuh, manaqib mampu menyampaikan pesan moral dan spiritual dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat.
Acara di Pondok Pesantren Taruna Nurus Sholeh Paren
Acara manaqib di Paren malam itu dipimpin oleh K.H. Nur Sholeh bersama K.H. Agus (Sragen) Susunan acara dimulai dengan pembacaan doa, dilanjutkan dengan pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kemudian dzikir bersama. Suasana khidmat terasa ketika jamaah mendengarkan kisah-kisah keteladanan beliau, yang mengingatkan akan pentingnya akhlak mulia dan kedekatan kepada Allah.
Setelah acara ditutup, seluruh jamaah menikmati makan malam bersama. Momen ini menjadi simbol kebersamaan, di mana tidak ada sekat antara kiai, guru, santri, maupun staf pondok. Semua duduk bersama, berbagi hidangan, dan memperkuat rasa persaudaraan.
Nilai dan Hikmah
Tradisi manaqib bukan sekadar ritual, tetapi sarana pendidikan spiritual. Melalui kisah Syekh Abdul Qadir, jamaah diajak untuk meneladani sifat sabar, tawakal, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Selain itu, acara ini juga mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian, sehingga setiap orang harus mempersiapkan diri dengan amal shalih.
Lebih jauh, manaqib berfungsi sebagai jembatan antara tradisi keilmuan Islam klasik dengan kehidupan masyarakat modern. Ia mengajarkan bahwa nilai-nilai spiritual tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Penutup
Acara manaqib di PP. Taruna Nurus Sholeh Paren pada 22 Januari 2026 menjadi bukti bahwa tradisi Islam klasik masih hidup dan berakar kuat di pesantren Indonesia. Melalui kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, jamaah tidak hanya mengenang seorang wali besar, tetapi juga mengambil hikmah untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Safah